Gubernur Tidak Tepati Janji Aksi ARTI KTT, Berujung Duka

oleh -2724 Dilihat
oleh
kondisi lokasi sebelum bentrok dengan aparat di desa khatulistiwa kecamatan tinombo selatan, Kabupetan Parimo, Sulawesi tengah.

PARIMO, Kompas Sulawesi – Aksi unjuk rasa Aliansi Rakyat Tani (ARTI) Koalisi Tolak Tambang (KTT), gabungan tiga Kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), berujung duka akibat gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura yang tidak tepati janjinya, untuk mendatangi masyarakat terkait kejelasan Izin Usaha Pertambangan (IUP) PT. Trio Kencana.

Pelaksanaan aksi tolak tambang itu terdiri dari gabungan tiga masa ARTI KTT, berasal dari Kecamatan Tinombo Selatan, Toribulu, dan Kasimbar.

Dari aksi unjuk rasa itu, Erfaldi (21) Pria warga Desa Tada, Kecamatan Tinombo Selatan, Parimo Sulawesi Tengah, meninggal dunia akibat terkena tembakan oknum aparat.

“Saya mendapat kabar dari keluarga anak saya kena tembak. Saya langsung mencari tahu keberadaannya ke Puskesmas Tada. Saat tiba, saya tidak kuat melihat kondisi anakku yang telah meninggal dunia,” ungkap Ibu Kandung korban, Rosmawati saat ditemui di rumah duka, Desa Tada, Ahad (13/02/2022).

Ibu korban pun membantah, jika anaknya disebut-sebut sebagai salah satu dari masa aksi ARTI KTT. Dia juga mengaku, Erfaldi mendatangi lokasi demonstrasi di Desa Khatulistiwa, sekitar pukul 20:00 WITA.

Sebelumnya, dia sempat meminta anaknya membelikannya rokok dan kebutuhan lainnya, untuk barang dagangan di warung miliknya.

Ibu korban mengatakan, berdasarkan keterangan saksi mata di TKP yang sempat membawa anaknya ke Puskesmas Tada, Erfaldi diduga terkena tembak dari arah belakang.

Saat itu kata dia, anaknya sedang berlari menghindari kerumunan masa aksi, ketika bentrok dengan personil Polisi.

“Dari cerita beberapa saksi, anak saya terkena tembak dari arah belakang dan langsung terjatuh dengan posisi wajah mengarah ke aspal, makanya anak saya mengalami luka-luka dibagian wajah,” ungkapnya.

Dalam kejadian ini, ibu korban menuntut keadilan atas kejadian tersebut. Berharap, oknum anggota Polisi yang melakukan tindakan itu, bertanggung jawab.

“Kami akan menempuh jalur hukum. Saya yakin anakku tidak salah, dia anak baik. Cuman dia anak laki-laki kami satu-satunya yang menjadi harapan kami,” tegasnya.

Sementara itu, Kapolres Parimo, AKBP Yudy Arto Wiyono membantah, jika warga Desa Tada tersebut meninggal akibat luka tembakan.

Bahkan menurutnya, yang membawa korban tersebut ke Puskesmas Tada, adalah warga sekitar, bukan personil Polisi.

“Korban dibawa menggunakan motor ke Puskesmas menurut informasi. Itu bukan luka tembak, tapi luka seperti tertusuk,” tegasnya.

Kapolres Parimo mengatakan, pihaknya membubarkan masa aksi ke arah Tugu Khatulistiwa, dengan menggunakan gas air mata.

Olehnya, Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulawesi Tengah (Sulteng), Irjen Polisi Rudy Sufahriadi, menyampaikan permohonan maaf atas tewasnya pemuda bernama Erfaldi (21) asal Desa Tada, Kecamatan Tinombo Selatan, Parimo, akibat terkena tembakan.

“Saya atas nama pribadi dan satuan memohon maaf kepada keluarga korban,” ungkap Kapolda Sulawesi Tengah, saat konfrensi pers di Mako Polres, Ahad, (13/02/2022).

Ia menegaskan, karena tindakan personil Polisi dilakukan tidak sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP), maka pihaknya telah meminta kepada jajaran Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam), untuk melakukan penyelidikan.

Kapolda berjanji, akan melakukan dan menangani proses tersebut secara professional, terhadap siapapun yang melakukan pelanggaran, tidak sesuai dengan Peraturan Kapolri (Perkap).

“Kami akan tangani professional. Hari ini, Kapolres Parimo dan Direktur Intel Polda sedang berada di rumah korban,” pungkasnya

Laporan : Aid Lumpati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *