137 Tewas, Presiden Ukraina Ucap Kini Ditinggal Sendirian

oleh -1582 Dilihat
oleh
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan 137 tewas karena serangan Rusia yang berlangsung pada Kamis, (24/02/2022). (Sergei SUPINSKY / AFP)

JAKARTA, Kompas Sulawesi –  137 prajurit Ukraina tewas dan 316 lainnya terluka akibat serangan Rusia pada Kamis, 24 Februari 2022.

Hal itu diumumkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam pesan video yang diunggah di laman Facebooknya yang mengatakan, negara lainnya kini “takut” untuk mendukung keanggotaan Ukraina pada NATO.

“Siapa yang akan siap menjamin keanggotaan Ukraina ke NATO? Sejujurnya, semua orang takut,” kata Zelensky.

Zelensky menyatakan, ia sesungguhnya berterima kasih pada pemimpin-pemimpin negara Eropa yang telah menyatakan dukungan secara konkret dan bukan hanya kata-kata.

Tapi, menurutnya, ketika Rusia benar-benar menyerang, ia tidak melihat ada negara yang siap membantu mereka bertarung.

“Saya bertanya semua mitra negara apakah mereka bersama kami. Mereka memang bersama kami, tapi mereka tidak siap untuk menjadikan kami sekutu,” katanya lagi.

Sebab, keanggotaan NATO memang menjadi salah satu pemicu invasi Rusia ke Ukraina.

“Hari ini saya bertanya kepada 27 pemimpin negara Eropa, apakah Ukraina akan bergabung dengan NATO. Saya bertanya langsung. Semua orang takut, dan tidak menjawab. Olehnya kami tidak takut, kami tidak takut apapun juga,” jelasnya.

Rusia ingin Amerika dan sekutu memastikan bahwa Ukraina atau negara-negara pecahan Uni Soviet lainnya tak akan bergabung dengan NATO.

Selain itu, Rusia juga ingin menghentikan ekspansi dan pengerahan senjata NATO di negara-negara “halaman rumah” Rusia.

Sebelum invasi, Putin bahkan sempat menawarkan kepada Barat tuntutan Rusia versi lebih sederhana yakni Ukraina harus menolak tawaran bergabung dengan NATO dan mengakui kedaulatan Rusia atas Crimea yang dicaploknya pada 2014.

Pada Jum’at 18 Februari, Zelensky kemudian mengumumkan bahwa negaranya batal bergabung dengan NATO.

Selain karena menghadapi ancaman Rusia, ia juga menyebut alasan syarat yang sulit yaitu adanya referendum dari rakyat Ukraina.


Sumber : Cnnindonesia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *