Cerita Pengusaha Kopi di Banggai yang Bertahan Ditengah Pandemi

oleh -2385 Dilihat
oleh
Biji kopi yang siap diproduksi menjadi kopi saluan milik Tuti, Senin (28/02/22). (Foto: Tomi Noho)

BANGGAI, Kompas Sulawesi Bagi warga di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, nama kopi saluan mungkin tidak asing lagi.

Kopi saluan sendiri diproduksi oleh CV Tompotika Teknik Nusantara milik Tuti yang termasuk Usaha Kecil Menengah (UKM), yang terletak di Jalan Mekar Indah Desa Tontoan, Kecamatan Luwuk.

Berproduksi sejak 5 November 2017, kopi saluan milik Tuti, memiliki beberapa produk dari grinbin, diantaranya kopi biji jal, roasting, sangrai, dan bubuk.

Sedangkan khusus kopi bubuk memiliki dua varian rasa, yakni original dan jahe yang dikhususkan bagi ekonomi menengah kebawah.

Dulunya, dalam perhari, pendistribusian kopi saluan bisa mencapai 200 pics ke seluruh alfamidi dan swalayan di Kabupaten Banggai.

Bahkan, pendistribusiannya pun hingga menembus pasar di Jakarta.

Namun, kini kopi saluan milik Tuti, pendistribusiannya menurun akibat pandemi COVID-19.

Menurut Tuti, bahan kopi saluan tersebut didapatkannya langsung dari petani di Desa Simpang Raya, Kecamatan Nuhon, Balantak, Luwuk, Toili, dan kebun kopi miliknya.

Saat ini, hasil produksi kopi saluan miliknya hanya dapat difokuskan di Kabupaten Banggai, khususnya Sulawesi Tengah.

“Alhamdulillah, kebutuhan kopi di Kabupaten Banggai masih sangat tinggi,” kata Tuti, Senin (28/02/22).

Dia menjelaskan, dalam perhari, proses sangrai kopi mencapai 10 kilogram berdasarkan orderan.

Tujuannya, agar kualitas kopi yang diproduksi tetap terjaga dan lebih segar ketika dinikmati.

Bahkan, usaha miliknya juga mendapat dukungan sarana dan prasarana pengolahan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Banggai.

“Alhamdulilah, Pemda Kabupaten Banggai melalui Dinas PPHP, Dinas Ketahanan Pangan, dan Dinas Sosial sudah memberikan dukungannya,” akunya.

Bantuan dari Pemda Kabupaten Banggai, kata dia, diberikan secara bertahap, baik peralatan maupun keuangan khusus pembelanjaan bahan baku.

Hanya saja, Tuti, juga berharap adanya dukungan Pemda Kabupaten Banggai dari segi legalitas halal dari BPOM Sulawesi Tengah.

Bahkan, Tuti, mengaku UKM miliknya tersebut telah diajukan sebagai bentuk upaya untuk memenuhi syarat mendapatkan legalitas.

“Mungkin, karena banyak pelaku UKM di Sulawesi Tengah, sehingga ada keterlambatan proses tersebut,” ucap Tuti.

Dia menambahkan, UKM miliknya telah mendapatkan hak cipta.

Bahkan, Dinas Kesehatan Banggai telah menerbitkan PIRT bagi usaha miliknya itu.

Olehnya, dia berharap, Pemda Kabupaten Banggai dapat memfasilitasi pihaknya untuk mendapatkan legalitas halal dari BPOM Sulawesi Tengah.

“Legalitas halal itu penting, agar konsumen kami tidak ragu dengan hasil produksi kopi saluan ini. Selain itu, hasil produksi kopi saluan kami bisa dipasarkan ke seluruh daerah di Indonesia,” tandasnya.

Laporan : Tomi Noho

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *